Covaré

Akhir tahun 2017, kami berada dalam persiapan sebuah kegiatan para BUMN di Paritohan, di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara. Suasana dingin berkabut, karena persiapan dimulai sejak dini hari. Namun tampak sebuah pemandangan indah di tengah kabut: PT PPI menyajikan kopi Toba. Di tengah kesegaran yang ditawarkan kopi panas Covaré itu, PPI memberikan kejutan dengan memberikan begitu saja kopi-kopi Toba Covaré kepada siapa pun yang mengaku pecinta kopi.

Di tahun 2018, aku sempat beberapa kali bekerja sama dengan PPI, sebuah BUMN yang berfokus pada perdagangan umum dan khusus atas beraneka produk sejak dari hulu hingga hilir, baik lokal maupun lintas negara; bahkan beberapa kali berjumpa dengan Bapak Agus Andiyani, Dirut PPI yang sungguh visioner namun sangat rendah hati. Namun di awal 2019, kembali PPI teridentikkan dengan kopi.

Pada paruh pertama 2019 ini, para BUMN sedang mempersiapkan alat pembayaran bersama — LinkAja. LinkAja harus dapat digunakan di berbagai produk, layanan, event, dan situs BUMN. Termasuk di antaranya adalah rest area dan pom bensin di jalan tol. Kami tengah mempersiapkan soft launch sebuah rest area di KM 260 — sebuah kawasan bekas pabrik gula di Banjaratma, Brebes, bersama Direktur Pertamina Pak Mas’ud Khamid. Kawasan ini akan diujudkan sebagai kawasan wisata (transit-oriented development) yang memanfaatkan bekas instalasi pabrik gula. Hall besar di Banjaratma dimanfaatkan sebagai café, resto, dan penjualan produk nasional. Di tengah persiapan yang melelahkan, tampak café yang sangat rapi, dengan brand Covaré yang terkenal itu, dan masih buka di tengah malam. Sambil lelah, kami langsung menyerbu café itu, pesan brewed coffee Wamena, Gayo, dll. Setelah kesadaran agak pulih, kami baru sadar bahwa sang barrista di café itu tak lain dari Dirut PPI, Pak Agus Andiyani sendiri. Hoooo.

Melayani curiosity kami, berceritalah Pak Agus. PPI memang mendapatkan tugas khusus dari Pemerintah RI untuk membina kawasan-kawasan rakyat yang potensial menghasilkan kopi bermutu sangat tinggi. Pembinaan diujudkan dengan menentukan kawasan pilot, memberikan pembinaan langsung kepada rakyat, memberikan bantuan benih dll, melakukan pendampingan dan menjaga keterjaminan mutu, hingga membeli kopi-kopi olahan rakyat itu, serta mengemasnya secara istimewa, dan mendistribusikannya ke seluruh dunia. Kawasan pembinaan lengkap dari Aceh hingga Papua.

Semakin istimewa rasanya kopi Covare ini.


Covaré: Koen, Jokowi, and a fan.

BTW, Covaré dapat dibeli di Blanja: http://blanja.com/store/covare

 

Read More

Kopi Hwie

Konon, kenyamanan menikmati kopi tidak selalu ditentukan oleh kualitas; tetapi juga oleh kebiasaan. Seorang rekan yakin bahwa kopi yang benar-benar kopi hanyalah Kapal Api. Dengan definisi semacam ini, buat aku yang tumbuh di kota Malang, rasa kopi standar adalah Kopi Hwie.

Di Pasar Klojen yang terletak di tengah kota Malang, terdapat toko Sido Mulia. Selain menjual kebutuhan rumah tangga, toko ini juga menjual kopi dengan merk Sido Mulia. Sido Mulia dikenal sebagai kopi yang memiliki rasa yang pekat dan aroma yang sangat khas, baik aroma kopi yang memenuhi toko maupun aroma kopi saat dijerang di rumah.

Tapi … terakhir aku ke sana, sedang tutup sih. Minggu sih.


SidoMulia_2

Perusahaan dan Toko Sido Mulia ini telah berdiri di Malang sejak tahun 1953. Pendirinya adalah Tjeng Eng Hwie. Banyak yang menyebut tokonya sebagai Toko Hwie, dan kopinya sebagai Kopi Hwie. Waktu masih tinggal di Malang, aku belum pernah baca ejaannya, dan cuma bisa menebak-nebak: Oei, Oey, atau Wie, hahaha. Perusahaan kopi Sido Mulia ini telah dipegang oleh generasi kedua, dipimpin Sonny Tjandra, dengan menjaga gaya tradisionalnya dalam pengolahan dan penjualan kopi.

SidoMulia_01

Sido Mulia melakukan pemanggangan dan penggilingan kopi dengan standar mereka sendiri. Kemudian bubuk kopi dimasukkan ke dalam tong kedap udara. Rasanya dulu Sido Mulia hanya menjual kopi robusta. Namun kini mereka memproduksi dan menjual kopi arabika dan robusta. Biji kopi diperoleh dari perkebunan di daerah Dampit. Orang Malang pasti tahu daerah ini :).

Tentu, sebagai kopi tradisional, Kopi Hwie lebih sedap dibrew. Dia ditargetkan untuk jadi kopi tubruk. Kalau dijadikan espresso, pahitnya terlalu kuat. Bisa dinetralkan dengan sedikit gula merah tapi.

Lain hari, kalau sempat berkunjung ke Malang, jangan cuma bawa apel dan tempe. Bawa juga Kopi Hwie yang pernah legendaris ini :).

Read More

Peringkat Profesi Peminum Kopi

IO9 [URL] menampilkan survei yang diselenggarakan pada tahun 2011 oleh Dunkin Donuts dan CareerBuilder. Survei dilakukan pada 4.700 pekerja Amerika, dan hasilnya adalah daftar profesi yang membutuhkan kopi lebih dari yang lain.

Kesimpulan survei adalah bahwa ilmuwan dan teknisi laboratorium merupakan peminum kopi terberat di negara itu. Tentu ini tak mengejutkan. Sains adalah pekerjaan 24 jam. Riset dilakukan pada jadwal yang berbeda dengan irama manusia normal. Apalagi jika perkerjaan ini ditambah dengan urusan menulis paper hasil riset, mempersiapkan conference, mereview paper sejawat, hingga mengajukan proposal pendanaan riset. Alhasil, para ilmuwan sering harus bekerja larut malam dan pada akhir pekan.

Peringkat lengkap profesi peminum kopi menurut survei ini:

  1. Ilmuwan dan teknisi lab
  2. Profesional marketing dan PR
  3. Pengelola bidang pendidikan
  4. Penulis dan editor
  5. Pengelola bidang kesehatan
  6. Dokter
  7. Penyedia makanan
  8. Profesor
  9. Pekerja sosial
  10. Profesional bidang keuangan
  11. Personal caretaker
  12. Koordinator pengelolaan sumber daya manusia
  13. Perawat
  14. Profesional bidang pemerintahan
  15. Pekerja trading terlatih

Mahasiswa dan pelajar, dikau-dikau belum digolongkan sebagai profesional, jadi belum masuk ke survei ini.

Read More

Penurunan Depresi Para Wanita

Riset mengenai kaitan antara kopi dan kesehatan selalu kontroversial, dan harus disimak secara lebih hati-hati, sambil terus mencermati riset-riset lain, sambil berharap seluruh riset itu bersifat konklusif dan bukan anekdotal. Yang di bawah ini salah satunya.

Sebuah artikel di Lifehacker [URL] menyampaikan riset yang menyimpulkan bahwa kopi memiliki efek kuat kesehatan mental: dua atau lebih cangkir per hari dikaitkan dengan penurunan risiko depresi. Jurnal “The Nurses ‘Health Study” mengevaluasi lebih dari 50.000 wanita di Amerika Serikat melalui kuesioner dari tahun 1980 hingga 2004, dan mengidentifikasi kasus depresi dalam periode 10-tahun. Perempuan yang minum dua atau tiga cangkir kopi sehari cenderung memiliki risiko depresi 15% lebih lebih kecil, dibandingkan dengan mereka yang minum satu atau lebih cangkir kopi seminggu, dan mereka yang minum empat atau lebih cangkir sehari memiliki penurunan risiko hingga 20%.

Namun patut diperhatikan bahwa riset ini hanya menunjukkan adanya keterkaitan, dan bukan memastikan adanya sebab-akibat. Artinya, belum ada yang benar-benar menyarankan para wanita untuk mulai minum kopi demi mengurangi depresi.

Read More

Kopi di Obsat

Banyak hal2 menarik yang sedang tak sempat dilakukan. Blogging, misalnya; atau mengambil gambar atau mereview buku untuk blog; atau meluangkan waktu berbincang dengan sesama blogger :). Namun, sambil tetap diapit oleh hari2 dengan kesibukan yang menarik, aku meluangkan sebuah Rabu malam untuk kembali hadir di Langsat. Langsat sudah agak berubah. Sebuah rumah di jalan yang sama disewa khusus untuk tempat kopdar (yang disini dinamai OBSAT: Obrolan Langsat), sementara rumah yang lama dikhususkan untuk kantor :). Namun aktivisnya tak banyak berbeda :). Dan aku hadir malam itu, selain agar tampak seolah sopan pada senior, juga karena temanya: kopi :).

Peserta hadir sekitar 20-30 orang. Speakernya Toni Wahid (Cikopi), Adi WT (Secangkir Kopi), Mirza Lukman (Starbucks), Hendri Kurniawan (Espresso 1st). Mungkin masih ada lagi :). Model perbincangan di OBSAT agak unik. Para speaker ada di depan bersama-sama, dan sharing bergantian dengan cara yang agak acak. Judulnya memang obrolan sih, haha. Tapi tetap pakai presentasi Powerpoint :). Dan jadi cukup sulit merunut balik catatan aku untuk mengingat siapa bercerita apa :). Kadang2 satu cerita diceritakan beramai2 juga sih. Kan obrolan.

Berikut beberapa catatan yang sama acaknya:

  • Beberapa teknik membuat kopi di rumah:
  • Coffee Syfon. Ini favorit Toni W. Ia menggunakan perangkat bermerk Hario dari Jepang. Berbentuk dua tabung cembung yang diikat di bagian tengah. Bubuk kopi diletakkan di atas, dan air di bawah. Air dipanaskan dengan pembakar kecil. Air yang panas menekan ke atas. Panas dan tekanan mengekstraksi kopi.
  • Moka Pot. Ini favorit aku sih sebenernya, dan pernah dibahas di blog ini. Tapi sejak pindah ke Jakarta, aku agak malah mengakses kompor dan burner, jadi moka pot ini tak sering lagi digunakan.
  • French Press. Ini favorit Starbucks (untuk brewing), dan tak heran kita sering ditawari benda ini di Starbucks. Pernah dibahas di blog ini juga, benda semacam ini menemaniku setiap pagi untuk menyiapkan kopi pagi.
  • Vietnam drip. Baca di sini kalau berminat :).
  • Kopi tubruk.
  • Espresso machine. Tapi yang ini tentu amat serius. Dan mahal, haha.
  • Espresso
  • Di Italia, kopi adalah espresso. Di café, kopi ini dibuat dan langsung diminum sambil berdiri. Kalau duduk harus bayar lagi :).
  • Orang Amerika tak tahan pahitnya espresso. Jadi mereka mengencerkannya dengan air. Dan namanya jadi Americano.
  • Kopi espresso terbaik di seluruh dunia umumnya mengandung kopi robusta Indonesia, untuk memberi nuansa rasa pahit yang khas.
  • Banyak yang mengira epsresso memiliki kadar kafein paling tinggi. Padahal kafein dilepas terus menerus selama penjerangan. Jadi kemungkinan justru kopi tubruklah yang memiliki kadar kafein tertinggi.
  • Kopi di Beberapa Negara
  • Di Vietnam, kopi dibuat dengan Vietnam drip. Lalu dicampur dengan susu kental manis :).
  • Di India, terutama bagian Utara, orang jarang minum kopi. Juga café agak sulit dicari. Umumnya orang lebih suka masala chai (????? ???) daripada kopi.
  • Di Italia, orang tak meminum cappucino di sekitar waktu makan.
  • Kopi Indonesia
  • Beberapa narasumber sepakat: Kopi Gayo adalah kopi terbaik
  • Yang juga patut dicoba adalah kopi-kopi Papua: Wamena, Nabire
  • Untuk kopi robusta, konon yang paling schedap berasal dari Temanggung
  • Namun sebenarnya tidak ada standar rasa kopi terbaik. Rasa kopi itu sungguh subyektif
  • Seluruh narasumber sepakat: kopi luwak rasanya tidak istimewa. Ia terkenal karena promosi, menggunakan seleb, masuk ke Oprah, dan berkesan unik (faeces gitu loh). Banyak rasanya biasa. Banyak sekali kopi yang lebih enak
  • Di Banyuwangi ada Kopi Nangka dari kopi terfermentasi yang konon rasanya minta ampun.
  • Pengolahan kopi
  • Biji kopi dapat disimpan hingga beberapa tahun, dan dikategorikan rasanya berdasar umur. Ini cuma soal rasa, bukan kualitas.
  • Roaster menentukan mutu kopi yang terolah. Juga roaster lah yang paling memahami hasil kerja petani kopi.
  • Barrista / brewer bertugas mengejawantahkan (sic) hasil kerja roaster. Roaster sebaiknya ex barrista/brewer.
  • Setelah kopi disangrai/dipanggang, dia akan mengeluarkan CO2 beberapa hari. Jangan dulu diolah. Untuk kopi blended, sebaiknya ditunggu sekitar 7 hari.
  • Setelah digiling, kopi harus segera diminum. Best: digiling dan langsung diminum. Ini karena minyak esensial kopi mudah menguap.

Sambil berbincang, kami juga disuguhi kopi oleh Bel Canto. Surprise: kopi ini dibuat di Malang! Aku pikir tadinya Malang cuman punya Sido Mulia, haha. Bel Canto ini menyediakan kopi-kopi arabika Indonesia berkualitas tinggi: Java, Gayo, Wamena, dll. Bel Canto berbaik hati untuk memberiku sebungkus kopi Gayo untuk dicoba di rumah. Pas kopi Gayo di rumah baru habis. Thank you :).

Pulang … mendadak hujan amat deras mengguyur Jakarta :D

Oh ya, foto di atas diambil dari CIKOPI.COM. Aku lagi nggak bisa bikin foto-foto yang bagus :).

Read More