Kopi untuk Melawan Alzheimer

Rosemary Black menulis di NY Daily News bahwa secangkir kopi yang kita minum itu bukan hanya menyegarkan pikiran, tetapi juga mengurangi laju berkurangnya memori. Kepikunan, dalam arti menurunnya memori, adalah ciri utama penyakit Alzheimer.

Sayangnya, test ini baru dilakukan pada tikus lab. Pada riset yang dipublikasikan di Journal of Alzheimer’s Disease ini, tikus-tikus itu diberi menu yang setara dengan 500 mg kafein per hari. Teramati bahwa pada tikus dengan gejala setara Alzheimer, konsumsi kafein sejumlah itu akan menurunkan hingga 50% tingkat pengurangan protein yang menjadi aspek kunci penyakit itu. Dua bulan kemudian, tikus-tikus itu menunjukkan hasil tes memori yang jauh lebih baik dibandingkan tikus pembanding. Dr Jennifer Ashton (bukan Jennifer Aniston loh) menyimpulkan dari tes itu,  bahwa teramati “a very positive effect on their memory and thinking actions over a two-month period.”

Angka “setara 500mg” itu sudah dinormalisasi untuk berat tikus. Untuk manusia, agar mencapai efek yang sama, akan diperlukan konsumsi kafein 500mg per hari. Ini sama dengan 14 cangkir teh, atau 2 cangkir kopi ekstra keras :). Gary Arendash, neuroscientist yang bekerja pada riset itu, menyebutkan, “Caffeine could be a viable treatment for established Alzheimer’s disease, and not simply a protective strategy. That’s important because caffeine is a safe drug for most people.”

Tapi Eric Hall, CEO dari Alzheimer’s Foundation of America memberikan peringatan: “A human being’s brain processes very differently than a mouse’s brain, so the public has to be cautious. This is a first step, but there are a lot more steps to be done. We are hopeful, but many failed clinical trials can testify to the fact that what works in mice doesn’t always work in humans.”

Lou-Ellen Barkan, CEO dari New York City chapter of the Alzheimer’s Association memberikan nada serupa. “All research is promising and anything that shows efficacy in the lab is worth exploring. Caffeine, while it’s a drug, is something that many of us take every day. That would be a nice outcome if all you had to do to prevent Alzheimer’s was drink two cups of coffee a day.”

Namun jangan dilupakan bahwa kafein tetap memiliki efek samping. Wanita hamil, pengidap darah tinggi, dan mereka yang dilarang dokter untuk mengkonsumsi kopi; tidak dianjurkan langsung mengimplementasikan riset baru ini. Dokter kita tetap lebih terpercaya daripada artikel di majalah atau tulisan di blog :).

Read More

Kembalinya Kopi Kampung

Baru aku berceloteh tentang La Tazza, ada pesan di dinding facebook dari Taufik — seorang barista di Sbux BIP. Ada satu pak BAE yang sudah dicadangkan buatku: Sulawesi Toraja. Menarik, karena BAE (black apron exclusive) sebelumnya juga kebetulan dari Indonesia: Sumatra Siborongborong. Biasanya BAE itu bergantian dari satu ujung dunia ke ujung yang lain. OK, jadi aku janji ambil ke Bandung, kalau sempat.

Aku takjub waktu akhirnya benar2 ke Bandung. Tampilan BAE ini memberiku nuansa déjà vu. Wow, ini Kopi Kampung. Bukan hanya warna kemasan hijau toska itu benar2 Kopi Kampung; tetapi juga semua gambar dan keterangan di dalamnya. Yang berbeda hanya bahwa BAE ini dinamai Sulawesi Toraja. Sedikit ingat bahwa aku pernah baca nama Kopi Kampung di tempat lain. Barangkali — sekedar barangkali — Starbucks terpaksa memilih nama lain agar tak ada tuntutan hak cipta. Masih agak ragu bahwa ini benar2 jelmaan Kopi Kampung, aku hanya ambil 1 pak, dan membawanya pulang.

Di rumah aku bandingkan lagi kemasannya. Selain namanya, semuanya 100% mirip.

Baru pagi ini (sudah di Jakarta), aku punya kesempatan untuk menggiling biji kopi hitam berkilauan itu. Dijerang dengan French press, dan disajikan tanpa gula, aromanya langsung terasa beda dengan kopi Sulawesi Toraja Starbucks yang biasa. Mirip Kopi Kampung? Barangkali. Kopi Kampung cuma ada di memori, dan memori bisa salah. Jadi, acara mencicipi pun dimulai. Bukan dengan upacara, karena mata malah sibuk memantau Twitter :).

Kopi Indonesia memang luar biasa. Diolah dengan cara yang sama istimewanya, Kopi Indonesia terasa jauh lebih istimewa dibandingkan misalnya Brasil, Colombia (yang banyak dipuja pecinta kopi itu), atau kopi2 Afrika. Kopi Kampung, eh Sulawesi Toraja ini benar2 mengubah pagi ini menjadi menyenangkan untuk dimulai. Entah kenapa aku jadi ingat Rhapsody in Blue dari Gershwin, yang menyentuh ramah tapi tegas. Aku pernah menulis bahwa Kopi Kampung memang salah satu yang terbaik di dunia. Ya, aku masih akan mempertahankan pendapat ini.

Kopi Toraja ini seharusnya dijaga untuk terus mendefinisikan BAE Starbucks. Sumatra Siborongborong dan Costa Rica Lomas Rio masuk deretan berikutnya. Tapi yang semacam Zambia Terranove sebaiknya dilupakan saja :).

Read English version here.

Read More

Heya, World!

picture-411

Hai. Ini Koen. Aku memposting tulisan-tulisanku tentang kopi, dalam Bahasa Indonesia, di blog ini.

Selain blog ini, aku masih punya blog Koen Coffee Corner yang lain, dalam Bahasa Inggris, beralamat di mylifestyleblogs.com/coffee. Blog itu adalah bagian dari Asia Blogging Network. Di blog itu, aku menulis berdua dengan Echi.

Mari kita awali kesegaran pagi ini dengan secangkir kopi. Dan maju terus kopi Indonesia :)

[Gambar: UserFriendly, 15-05-1999]

Read More

La Tazza Cassablanca

Mal Ambassador terletak di kawasan Cassablanca, Jakarta. Lantai 1 hingga 3 berisi berbagai alat elektronika dan gadget masa kini. Lantai 4 tempat foodcourt dan beberapa café. Di sinilah terletak Café La Tazza. Cafénya nyaman, membuat kita lupa bahwa kita masih berada di tempat perbelanjaan. Tapi yang lebih menarik adalah coffee boothnya.

Di coffee booth La Tazza kita bisa membeli berbagai biji kopi dari nusantara. Aceh Gayo, Sumatra Lintong, Lampung, Java Jampit, Toraja, Flores, hingga Papua. Semuanya dalam bentuk biji yang telah dipanggang dengan sempurna. Mereka juga menyediakan kopi-kopi luwak — tapi yang ini tak terlalu menarik buatku.

Cara membeli kopinya mirip kopi tradisional. Kita tinggal memilih kopi, lalu mereka menimbang, menggiling (kecuali kalau kita minta untuk tidak digiling), dan membungkusnya dalam kantung kedap udara.

Yang agak lucu di La Tazza adalah bahwa mereka hanya mau menjual kopi dalam ukuran 100 gram. Waktu aku mencoba beli Kopi Aceh, aku tidak boleh membeli kopi seberat seperempat kilogram. Aku diminta memilih antara 200 gram atau 300 gram :). Terpaksa aku ambil 200 gram. Box kopi di rumah hanya mampu menampung 250 gram. Tapi yang lebih lucu waktu di lain hari aku beli kopi Papua. Kopinya tinggal sedikit, sekitar 80 gram. Dan karena kurang dari 100 gram, mereka berkeberatan menjualnya. Jadi aku harus pilih kopi yang lain.

Harga kopi relatif murah untuk ukuran Kopi Arabika yang masih dalam bentuk biji dan terpanggang baik), yaitu sekitar 25.000 per 100 gram. Kopi Java-nya terasa lebih Njavani daripada misalnya Excelso Java. Mungkin kalah dari Java Estate dari Starbucks. Tapi Java Estate harganya di atas dua kali lipat La Tazza. Agak-agak sebanding dengan Java Jampit dari Caswell.

Tahu nggak? Aku selalu berfikir bahwa La Tazza benar2 menerapkan teori kuantum.

Read More

Kopi Vietnam

Kopi hari ini: kopi ala Vietnam. Kopi ini dijerang dengan seperangkat filter yang dibuat khusus untuk memberikan rasa kopi yang konon — kata orang Vietnam — tiada duanya.

Filter Kopi Vietnam seukuran cangkir kecil, mudah disimpan. Dan pemakaiannya mudah. Tapi kita harus menggunakan bubuk kopi yang tak terlalu halus. Kopi Vietnam sendiri sudah digiling dengan kekasaran yang pas untuk alat ini. Tapi kopi ala Vietnam tak harus menggunakan kopi dari Vietnam. Kita bisa giling sendiri kopi yang agak kasar. Untuk grinder miniku, aku set waktu 10 detik untuk menghasilkan kekasaran yang pas (sebagai bandingan, aku grind 15 detik untuk Bialetti-Mokka dan French-press, dan 20 detik untuk kopi tubruk).

Pertama, kita masukkan 3 sendok kecil kopi ke badan filter. Pasang spanner di atas cangkir (atau mug atau gelas), dan badan filter di atas spanner. Pasang lagi filter penutup di atas kopi, dan putar2 untuk meratakan kopi. Tanpa tekanan.

Sementara itu, siapkan air panas. Bisa dari dispenser yang berpemanas, atau dari air mendidih yang dibiarkan dingin sebentar. Sekarang, basahi kopi dengan air panas. Tuang air panas sedikit ke filter, sampai kira2 seluruh kopi terbasahi. Lebihkan sedikit di atas filter atas. Air akan terserap cepat. Biarkan. Diamkan 20 detik.

Kemudian, masukkan air panas memenuhi badan filter. Proses brewing langsung dimulai. Tutup filternya. Tunggu sekitar 5 menit. Boleh sambil menyanyi, menari, atau membaca puisi. Setelahnya, angkat spanner; dan temukan kopi hitam kental di dalam cangkir. Kopi Vietnam, yummie.

Kalau ingin membuat es kopi, kopi susu, atau es kopi susu; es dan/atau/justru susu bisa dimasukkan ke cangkir sebelum semua proses ini dilakukan. Cara ini lebih dianjurkan daripada memasukkan es dan/atau/kecuali susu setelahnya. Setelah kopi jadi … jangan buang waktu. Langsung disesap, atau disajikan. Awas, jangan berikan kopi ke anak kecil dan atau ke pinguin. Mereka bisa hiperaktif.

Read More

Vietnam

Brasil is apparently famous as the biggest coffee exporter. But only a few people know that the second position is held by Vietnam. Vietnam has a long history on coffee. When the Dutch was inhumanly forcing its kulturstelsel (never mind the spell — it is never important) in Nusantara (now Indonesia), the French colonist also started their own coffee plantations in Indochina, in the 19th century. Under communist government, however, Vietnamese coffee had been forgotten. Almost.

Since 1990s, when Vietnam redefined its interpretation of communism, they changed the way of development and management. They have been remanaging the coffee plantation, and then reexporting its beans worldwide. Vietnam’s coffee export got almost tripled only in four years, rising from 3,938 of 60 kg bags of coffee exported in 1995 to 11,264 of 60 kg bags in 1999. Almost all is of robusta variety, like here in Indonesia.

Generally, Vietnam’s coffee is valued lower in grade than that of other countries. But they have acknowledged the problem, and started to overcome it. For example, a state plan was issued, mentioning the country’s plan to diversify its robusta-saturated coffee growth and output, growing more arabica in its northern region.

They also started some other plans to attract the attention of premium coffee lovers. One of Vietnam’s domestic offerings, “civet coffee,” has the potential to appeal to the palates of high-end drinkers the world over. Civet coffee was originally made from coffee beans that had been eaten and excreted by civets, enhancing the taste of the beans. In Indonesia, the beans are called “kopi luwak.” A chain of coffee shops in Vietnam specializes in civet coffee, although these days the beans never see a civet’s insides, rather going through a synthetic process intended to simulate the effects of a journey through the civet’s digestive tract. They expect it to be as good as the real thing. While the owner of this chain has contemplated an international expansion of his business, citing possible franchises in Japan and New York City, the chain remains exclusively in Vietnam.

Read More

Warung Tinggi

Every town in Java (and other Indonesian islands as well) has their own coffee brand. Koffie Aroma from Bandung, Kapal Api from Surabaya, etc, have their own reputation regionally (and in some cases: internationally). Jakarta, as the first site in Indonesia where coffee trees were planted, has its own classical brand: Warung Tinggi.

The story began with a small food stall in Jakarta Kota (now named Jalan Hayam Wuruk), that sold local stuff to the neighbourhood. Each day, a woman visited the shop, carried fresh coffee bean in a basket on her head. The shop owner, Liauw Tek Siong, would buy the beans, traditionally roasted the coffee in a small pan, and sold the coffee. The coffee became famous, and Mr Liauw decided to open a new shop in 1878 to sell only coffee under a new brand: Tek Soen Hoo. This shop was then handed to his son, Liauw Tian Djie. This second Liauw stopped using pan, and started mechanizing the process using a roasting drum. Some years later, in 1938, they designed a logo for the coffee: a picture of a lady who originally sold them the coffee beans.

On Soe Har To’s new order era, the government discouraged the usage of chinese name or brand throughout the country. Liauw chose to change the brand of his coffee. Considering that his shop was famous as the highest food stall on the neighbourhood, he adopted the name Warung Tinggi (high shop) as his new brand.

The third generation took over the business in 1969, under Liauw Tiam Yan. The junior Liauw began packing his beans in aluminium foil instead of brown paper. In 1994, the production outpaced the capacity, and the roasting machines were moved out to Tangerang. In 2001, the Liauw family decided to split into two groups: one to continue with the Warung Tinggi brand, and the other to establish a new brand: Bakoel Koffie. Unfortunately, the Warung Tinggi brand was then sold to another investor. Now the Liauw’s fourth generation continues with the brand Bakoel Koffie.

If we are lucky, we can find both Warung Tinggi dan Bakoel Koffie brand in Jakarta. Sometimes we could also find Warung Tinggi with old package of brown paper, with label “Wartin” on it. It is another Indonesian culture: to make abbreviations of almost everything.

Reference: Gabriella Teggia, A Cup of Java.

Read More